MALIN KUNDANG
“Hai, Malin Kundang tunggulah sekejap,
Anakku. Aku ingin sekali melihat wajahmu. Aku ingin ikut merasa bahagia karena
engkau telah menjadi orang mulia”
“Wahai emak tua, Emak
jangan mengada-ada. Panglima adalah orang yang mulia. Ia menantu Kepala
Penguasa Negeri. Ia Nahkoda yang terkenalgagah berani dan kaya raya.katakanlah
jika engkau mau meminta sedekah. Panglima pasti memberinya sebab beliau seorang
yang ramah dan pemurah. Tetapi engkau jangan mengada-ada,”kata sang pegawai
yang selain ingin memuliakan panglimanya.
“Telah lama aku tirakat dan berdo`a. Siang dan malam aku mohon kepada yang
mahakuasa agar memberi kemulyaan kepada anakku. Jika aku mati, niscaya telah
senang hatiku,”kata emak janda. Tapi pegawai itu tertawa terbahak-bahak mendengarnya.”Banyak
orang suka mengaku orang sengsara, tak seorang pun mempedulikannya.”
“Wahai, Malin Kundang,
tidak kudengar kata-kataku? Tunggulah sekejap, tengoklah sekilas maka akan
berbahagialah aku. Aku tak akan menganggum kemuliaanmu. Aku sudah terbiasa
hidup sengsara, tak ingin lagi hidup bermanja..Tetapi......, kaudengarkah
suaraku...., Anakku?”
Walaupun jaraknya tidak
jauh, Malin Kundang seakan-akan tidak mendengar ucapan Emak Janda, Ibunya itu.
Ia sibuk membingbing istrinya menghindari kerumunanorang yang hiruk pikuk.
Malin Kundang tetap
membisu. Ia berhasil menyelamatkan istrinya ke kapal. Di kejahuanibunya telah
sampai ke tepi pantai. Ia berseru-semu sebisa-bisanya. “Anaku Malin Kundang,
benarkah Engkau hidup berbahagia menjadi orang mulia.”
Malin Kundang kehilangan
Iman. Ia malu menghadapi kejadian ini. Ia merasa terlanjur berdiam diri. Ia
segan mengubah sikapnya karena ia merasa dirinya panglima yang berkuasa.
Air mata Emaknya
bercucuran karena sedih. “Sebelum aku menutup mata, hanya satu keinginanku,
melihat anakku hidup bahagia dan mulia.... tetap yang kutunggu tidak kunjung
datang yang kutemui tidak lain dan seonggok batu yang membisu.
Pada saat itu juga,
tiba-tiba angin bertiup kencang. Kapal yang ditumpangi Malin Kundang
terguncang-guncang. Angin bertiup makin kencang, ombakpun berdebur-debur. Malin
kundang berdiri menunduk kelu tidak bergerak diterpa angin meredu-redu.
Kata-kata pilu dari ibu yang sengsara itu ternyata merupakan kutukan yang tidak
terkira. Malin Kundang menjadi batu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar