Minggu, 16 Desember 2012

Malin Kundang



MALIN KUNDANG
            “Hai, Malin Kundang tunggulah sekejap, Anakku. Aku ingin sekali melihat wajahmu. Aku ingin ikut merasa bahagia karena engkau telah menjadi orang mulia”
            “Wahai emak tua, Emak jangan mengada-ada. Panglima adalah orang yang mulia. Ia menantu Kepala Penguasa Negeri. Ia Nahkoda yang terkenalgagah berani dan kaya raya.katakanlah jika engkau mau meminta sedekah. Panglima pasti memberinya sebab beliau seorang yang ramah dan pemurah. Tetapi engkau jangan mengada-ada,”kata sang pegawai yang selain ingin memuliakan panglimanya.
“Telah lama aku tirakat dan berdo`a. Siang dan malam aku mohon kepada yang mahakuasa agar memberi kemulyaan kepada anakku. Jika aku mati, niscaya telah senang hatiku,”kata emak janda. Tapi pegawai itu tertawa terbahak-bahak mendengarnya.”Banyak orang suka mengaku orang sengsara, tak seorang pun mempedulikannya.”
            “Wahai, Malin Kundang, tidak kudengar kata-kataku? Tunggulah sekejap, tengoklah sekilas maka akan berbahagialah aku. Aku tak akan menganggum kemuliaanmu. Aku sudah terbiasa hidup sengsara, tak ingin lagi hidup bermanja..Tetapi......, kaudengarkah suaraku...., Anakku?”
            Walaupun jaraknya tidak jauh, Malin Kundang seakan-akan tidak mendengar ucapan Emak Janda, Ibunya itu. Ia sibuk membingbing istrinya menghindari kerumunanorang yang hiruk pikuk.
            Malin Kundang tetap membisu. Ia berhasil menyelamatkan istrinya ke kapal. Di kejahuanibunya telah sampai ke tepi pantai. Ia berseru-semu sebisa-bisanya. “Anaku Malin Kundang, benarkah Engkau hidup berbahagia menjadi orang mulia.”
            Malin Kundang kehilangan Iman. Ia malu menghadapi kejadian ini. Ia merasa terlanjur berdiam diri. Ia segan mengubah sikapnya karena ia merasa dirinya panglima yang berkuasa.
            Air mata Emaknya bercucuran karena sedih. “Sebelum aku menutup mata, hanya satu keinginanku, melihat anakku hidup bahagia dan mulia.... tetap yang kutunggu tidak kunjung datang yang kutemui tidak lain dan seonggok batu yang membisu.
            Pada saat itu juga, tiba-tiba angin bertiup kencang. Kapal yang ditumpangi Malin Kundang terguncang-guncang. Angin bertiup makin kencang, ombakpun berdebur-debur. Malin kundang berdiri menunduk kelu tidak bergerak diterpa angin meredu-redu. Kata-kata pilu dari ibu yang sengsara itu ternyata merupakan kutukan yang tidak terkira. Malin Kundang menjadi batu.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar