Rabu, 12 Desember 2012

kebaikan berbuah kebaikan



               Dahulu kala disebuah  hutan Banjarmasin hiduplah seorang kakek yang sangat tua. Usianya  labih dari 100 tahun. Rambutnya putih dan banyak yang sudah rontok. Giginya ompong dan kulitnya berkeriput. Jalannya pun menggunakan tongkat.
Kakek itu tinggal sendirian  di tepi hutan. Istrinya telah meninggal. Pekerjaan kakek adalah mengumpulkan kayu untuk dijual dipasar kota. Sebagian digunakan sebagai kayu bakar penghangat tubuh. Pada suatu hari seperti biasa, kakek mecari kayu di tengah hutan. Tetapi sampai sore  ternyata  kakek tak banyak menemukan kayu kering. Maklum semalam hujan cukup deras mengunyur hutan sehungga semua kayu yang ditemukan dalam keadaan basah. Dengan kecewa, kakek beranjak keluar hutan sambil membawa kayu basah secukupnya.
                “hari ini puasa lagi ,” pikir kakek. Baru beberapa langkah, kakek meninggalkan hutan, tiba-tiba  terdengar suara lolongan anjing. Suaranya merintih, sepertinya anjing itu membutuhkan pertolongan. Kakek menghentikan langkahnya. Ia mencari asal suara itu. Hewan itu tidak mampu bergerak. Ia hanya mampu mengeluarkan suara. Seolah-olah ia mohon kepada kakek agar mau menolong.
                Dengan cepat kakek mengangkat batang pohon yang menindih anjing itu. Namun ternyata anjing itu tetap tidak bisa bergerak. Tampaknya, ia telah kehabisan tenaga. Kakek yang melihat keadaan anjing itu, merasa iba. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tubuh hewan itu. Perlahan-lahan. Ia berjalan ke gubuknya.
                Sesampai digubuk, kakek segera mengobati lukanya. Ia membuat ramuan obat-obatan dari daun yang di petik  di tengah hutan. Karena tidak punya kain pembalut ia merobek lengan baju yang dipakainya untuk menutup luka anjing itu. Beberapa hari kemudian, luka anjing itu sembuh. Hewan itu tampak berterima kasih sekli kepada kakek. Kerena itu, ia tetap tinggal digubuk itu untuk menemani kakek mencari nafkah.
                 Persahabatan diantara mereka terjalin sangat erat. Sejak kehadiran anjing itu, suasana gubuk tidak sepi lagi. Kakek yang tadinya kesepian kini gembira karena di temani oleh anjing itu
                Tak terasa setauh telah berlalu. Setiap hari, kakek selalu mencari kayu bakar di hutan sedangkan anjing itu tinggal di gubuk.  Anehnya, sejak anjing tinggal di gubuk, banyak  sekali keanehan di gubuk kakek. Salah satunya adalah setiap pulang dari hutan, kakek selalu mendapai hidangan lengkap di atas meja makan. Entah siapa yang menyiapkannya. Kakek pernah menyuruh anjingnya untuk  mengisyaratkan siapa yang menghidangkan tapi kakek tetap tak  memperoleh keterangan apapun.
                Suatu hari  seperti biasanya, kakek meninggalkan gubuknya. Setelah beberapa langkah ia berjalan, timbul rasa penasaran, ia ingin mengetahui  siapa yang selalu menyiapkan makanan untuknya. Dengan langkah pelan, kakek kembali ke gubuk. Kakek lalu mengintip melalui celah pintu.
                Didalam gubuk terlihat si anjing menghadap meja makan. Ia mengangkat kaki depannya. Beberapa detik keumudian, terjadi perubahan pada tubuh si anjing. Perlahan-lahan tubuhnya membesar seukuran manusia dan berubah menjadi seorang putri yang cantik jelita pakaiannya sangat indah. Sang putri mengerakan telunjuknya ke meja makan. Dalam sekejap muncul hidangan  lengkap di atas meja makan. Sang putri menjadi kaget  ketika tiba-tiba kakek membuka pintu. Sang putri tak sempat mengubah  dirinya menjadi anjing.
Siapa kau?” Tanya kakek ingin tahu “sa… …saya, “jawab putri terbata-bata, “….adalah putri  indah dari negeri  banjar.”sang putri kemudian bercerita,”saya telah dikutuk oleh penyihir jahat menjadi seekor anjing. Kutukan ini akan hilang  apabila saya  diasuh dan disayang oleh seseorang yang baik hati selama satu tahun. “
                “Lalu mengapa kau hidangkan  ini secara sembunyi-sembunyi.”
                “Saya ingin membalas  kebaikan kakek selama ini.”
                “ Saya telah menjadi manusia sekarang. Saya ingin mengajak kakek pergi ke banjar untuk tinggal bersama. Di sana kakek tidak perlu bekerja. Kakek akan saya anggap sebagai kakek kandung saya sendiri. Nikmani saja hari tua kakek.”
                “Sang kakek berpikir sejenak,”baiklah, kakek akan ikut denganmu.”
                Akhirnya, sang putri tersenyum bahagia. Merekan saling berpelukan melepaskan kegembiraanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar