Dahulu kala
disebuah hutan Banjarmasin hiduplah
seorang kakek yang sangat tua. Usianya
labih dari 100 tahun. Rambutnya putih dan banyak yang sudah rontok.
Giginya ompong dan kulitnya berkeriput. Jalannya pun menggunakan tongkat.
Kakek itu tinggal sendirian di
tepi hutan. Istrinya telah meninggal. Pekerjaan kakek adalah mengumpulkan kayu
untuk dijual dipasar kota. Sebagian digunakan sebagai kayu bakar penghangat
tubuh. Pada suatu hari seperti biasa, kakek mecari kayu di tengah hutan. Tetapi
sampai sore ternyata kakek tak banyak menemukan kayu kering.
Maklum semalam hujan cukup deras mengunyur hutan sehungga semua kayu yang
ditemukan dalam keadaan basah. Dengan kecewa, kakek beranjak keluar hutan
sambil membawa kayu basah secukupnya.
“hari ini puasa lagi
,” pikir kakek. Baru beberapa langkah, kakek meninggalkan hutan, tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing. Suaranya
merintih, sepertinya anjing itu membutuhkan pertolongan. Kakek menghentikan
langkahnya. Ia mencari asal suara itu. Hewan itu tidak mampu bergerak. Ia hanya
mampu mengeluarkan suara. Seolah-olah ia mohon kepada kakek agar mau menolong.
Dengan cepat kakek
mengangkat batang pohon yang menindih anjing itu. Namun ternyata anjing itu
tetap tidak bisa bergerak. Tampaknya, ia telah kehabisan tenaga. Kakek yang
melihat keadaan anjing itu, merasa iba. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat
tubuh hewan itu. Perlahan-lahan. Ia berjalan ke gubuknya.
Sesampai digubuk,
kakek segera mengobati lukanya. Ia membuat ramuan obat-obatan dari daun yang di
petik di tengah hutan. Karena tidak
punya kain pembalut ia merobek lengan baju yang dipakainya untuk menutup luka
anjing itu. Beberapa hari kemudian, luka anjing itu sembuh. Hewan itu tampak
berterima kasih sekli kepada kakek. Kerena itu, ia tetap tinggal digubuk itu
untuk menemani kakek mencari nafkah.
Persahabatan diantara mereka terjalin sangat
erat. Sejak kehadiran anjing itu, suasana gubuk tidak sepi lagi. Kakek yang
tadinya kesepian kini gembira karena di temani oleh anjing itu
Tak terasa setauh
telah berlalu. Setiap hari, kakek selalu mencari kayu bakar di hutan sedangkan
anjing itu tinggal di gubuk. Anehnya,
sejak anjing tinggal di gubuk, banyak
sekali keanehan di gubuk kakek. Salah satunya adalah setiap pulang dari
hutan, kakek selalu mendapai hidangan lengkap di atas meja makan. Entah siapa
yang menyiapkannya. Kakek pernah menyuruh anjingnya untuk mengisyaratkan siapa yang menghidangkan tapi
kakek tetap tak memperoleh keterangan
apapun.
Suatu hari seperti biasanya, kakek meninggalkan
gubuknya. Setelah beberapa langkah ia berjalan, timbul rasa penasaran, ia ingin
mengetahui siapa yang selalu menyiapkan
makanan untuknya. Dengan langkah pelan, kakek kembali ke gubuk. Kakek lalu
mengintip melalui celah pintu.
Didalam gubuk
terlihat si anjing menghadap meja makan. Ia mengangkat kaki depannya. Beberapa
detik keumudian, terjadi perubahan pada tubuh si anjing. Perlahan-lahan tubuhnya
membesar seukuran manusia dan berubah menjadi seorang putri yang cantik jelita
pakaiannya sangat indah. Sang putri mengerakan telunjuknya ke meja makan. Dalam
sekejap muncul hidangan lengkap di atas
meja makan. Sang putri menjadi kaget
ketika tiba-tiba kakek membuka pintu. Sang putri tak sempat
mengubah dirinya menjadi anjing.
“Siapa kau?” Tanya
kakek ingin tahu “sa… …saya, “jawab putri terbata-bata, “….adalah putri indah dari negeri banjar.”sang putri kemudian bercerita,”saya
telah dikutuk oleh penyihir jahat menjadi seekor anjing. Kutukan ini akan
hilang apabila saya diasuh dan disayang oleh seseorang yang baik
hati selama satu tahun. “
“Lalu mengapa kau hidangkan ini secara sembunyi-sembunyi.”
“Saya ingin membalas kebaikan kakek selama ini.”
“ Saya telah menjadi manusia
sekarang. Saya ingin mengajak kakek pergi ke banjar untuk tinggal bersama. Di
sana kakek tidak perlu bekerja. Kakek akan saya anggap sebagai kakek kandung
saya sendiri. Nikmani saja hari tua kakek.”
“Sang kakek berpikir
sejenak,”baiklah, kakek akan ikut denganmu.”
Akhirnya, sang putri tersenyum
bahagia. Merekan saling berpelukan melepaskan kegembiraanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar