Si Lebai tinggal diantara dua
kampung besar di tepi sungai. Pada waktu yang sama ada dua keluarga yang
mengadakan kenduri besar, masing-masing di kampung hulu dan hilir. Keduanya
memanggil si Lebai.
Ketika si Lebai hendak pergi
mengunjungi kenduri timbullah sifat tamaknya. Ia berpikir, jika datang ke hulu
hanya dapat satu tanduk kerbau, karena hanya menyembelih seekor. Jika datang ke
hilir menyembelih dua ekor kerbau. Akan tetapi merasakan di hilir tidak sedap.
Si Lebai bisa makan di kedua tempat itu.
Dalam berpikir demikian, dikayuhnya
sampainya, ia menuju ke hilir. Teringat olehnya di hilir ia akan dapat dua
tanduk, tapi masakannya kurang sedap. Maka si Lebai pun berbaik berkayuh ke
hulu. Ia teringat pula di hulu hanya akan mendapat satu tanduk. Maka
berbaliklah ia ke hilir.
Ia pun balik dua
tiga kali. Kemudian sampan pun dikayuh dengan sungguh-sungguh ke hulu. Sampai
di sana kenduri pun sudah selesai. Ia segera bersampan ke hilir. Sampai di
hilir sudah ada pula yang bertud=gas membacakan do`a.
Si Lebai pun pulang mengambil kail.
Ia berangkat mengail dengan harapan memperoleh ikan untuk lauk dan dijual. Ia
membawa sebungkus nasi sambil lancanyang ditaruh di dalam tabung. Ia membawa
serta anjing pemburunya. Kalau tak dapat ikan, ia akan berburu pelanduk. Anjing
itu di taruh dibelakan sampan. Ketika kail sudah di dalam air, perutnya terasa
lapar. Si Lebai Membuka bungkusan nasi. Tabung berisi sambal diketuk-ketukan
pada tepi sampan. Sambal pun jatuh ke air. Ketika si Lebai hendak mengambil sambal
yang jatuh itu anjing pun melompat memakan nasi. Dengan begitu, terlepaslah
semua keinginan si Lebai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar