Rabu, 12 Desember 2012

Lebai Malang


            Si Lebai tinggal diantara dua kampung besar di tepi sungai. Pada waktu yang sama ada dua keluarga yang mengadakan kenduri besar, masing-masing di kampung hulu dan hilir. Keduanya memanggil si Lebai.
            Ketika si Lebai hendak pergi mengunjungi kenduri timbullah sifat tamaknya. Ia berpikir, jika datang ke hulu hanya dapat satu tanduk kerbau, karena hanya menyembelih seekor. Jika datang ke hilir menyembelih dua ekor kerbau. Akan tetapi merasakan di hilir tidak sedap. Si Lebai bisa makan di kedua tempat itu.
            Dalam berpikir demikian, dikayuhnya sampainya, ia menuju ke hilir. Teringat olehnya di hilir ia akan dapat dua tanduk, tapi masakannya kurang sedap. Maka si Lebai pun berbaik berkayuh ke hulu. Ia teringat pula di hulu hanya akan mendapat satu tanduk. Maka berbaliklah ia ke hilir.
Ia pun balik dua tiga kali. Kemudian sampan pun dikayuh dengan sungguh-sungguh ke hulu. Sampai di sana kenduri pun sudah selesai. Ia segera bersampan ke hilir. Sampai di hilir sudah ada pula yang bertud=gas membacakan do`a.
            Si Lebai pun pulang mengambil kail. Ia berangkat mengail dengan harapan memperoleh ikan untuk lauk dan dijual. Ia membawa sebungkus nasi sambil lancanyang ditaruh di dalam tabung. Ia membawa serta anjing pemburunya. Kalau tak dapat ikan, ia akan berburu pelanduk. Anjing itu di taruh dibelakan sampan. Ketika kail sudah di dalam air, perutnya terasa lapar. Si Lebai Membuka bungkusan nasi. Tabung berisi sambal diketuk-ketukan pada tepi sampan. Sambal pun jatuh ke air. Ketika si Lebai hendak mengambil sambal yang jatuh itu anjing pun melompat memakan nasi. Dengan begitu, terlepaslah semua keinginan si Lebai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar