Selasa, 18 Desember 2012

Surat Kelakuan Baik



SURAT KETERANGAN BERKELAKUAN BAIK
NO. : 272/I.851.202.5
Yang bertanda tangan di bawah ini kepala SMPN1Gabuswetan, dengan ini
Menerangkan bahwa :
                        Nama                         : NURBANI HARYANTO
                        Kelas                          :
                        Alamat                       : Ds. Wirakanan Rt 01/Rw 01
                                                               Blok tlepak
                        Tahun pelajaran     :  2011-2012
                      Berdasarkan hasil pengamatan kami selama siswa tersebut belajar di SMPN1Gabuswetan, dan sepanjang pengetahuan kami, siswa tersebut berkelakuan baik dan tidak terlibat Narkoba atau sejenisnya.
                             Demikian surat keterangan  berkelakuan baik ini di buat dengan sebenarnya
Agar dapat di pergunakan seperlunya.
                                                                                                Indramayu,23 November 2011
                                                                                                Kepala SMPN1Gabuswetan,

                                                                                                Drs.  H. SOLEH, M.Pd.
                                                                                                NIP.19611010 198211 1 003

Senin, 17 Desember 2012

Daur Ulang Kertas



Bahan :1. Kertas Koran bekas 1-2 kg
             2. Lem fox
            3. Gunting
            4. Air secukupnya +ember
            5. Cetakan
            6. Belender
Caranya  : a. Gunting Koran bekas menjadi serpihan kecil kemudian rendam di dalam Ember selama 1 hari (sampai lunak)
                 b. Setelah di rendam (sudah lunak) ambil kertas Koran tersebut. Kemudian            masukan ke dalam belender lalu ditambahkan air secukupnya. + lem fox 1 sendok
                 c. Kemudian jalankan belender sampai kertas Koran tersebut menjadi “bubur kertas” {PULP}.
                 d. Setelah jadi bubur kertas kemudian dari belender tuang lah ke dalam cetakan .
                 e. Hasil tuangan bubur kertas di cetakan kemudian ratakan lalu di jemur.

Cetakan  → Bahan     a. Kayu
                                    b. Kawat ram
                                    c. Plastik ram
                                    d. Kain ram

Minggu, 16 Desember 2012

Pemburu Dan Seekor Burung



PEMBURU DAN SEEKOR BURUNG
            Pada suatu hari, seorang pemburu mendengar kicauan merdu seekor burung di dalam hutan. Setelah mengikuti dari mana asal kicauan tersebut, dilihatnya seekor burung yang sangat cantik. “aku harus memiliki burung tersebut kemudian pemburu ini berusaha menangkap burung tersebut.
            Setelah beerhasil, pemburu itu mendapatkandi dalam sebuah kurungan. Akan tetapi, aneh sekali. Sejak ditangkap, pemburu itu belum pernah mendengar suara merdu burung itu di siang hari. Padahal pemburu itu ingin sekali bisa menikmati kicauan merdu burung tersebut.
            Oleh karena itu, si burung diberikan makanan dan minumanyang mahal dan lezat. Sayangnya, burung itu masih saja tidak mau berkicau di siang hari.
            “mungkin burung ini sakit, “pikir pemburu itu. Sebenarnya burung itu tidak sakit burung itu memang tidak suka berkicau di sian hari, dan justru lebih senang berkicau di malam hari.
            Pada suatu malam, burung itu berkicau dengan merdu seperti biasanya. Tiba-tiba seekor burung hantu terbang menghampirinya dan berkata,”sahabatku, suaramu bagaikan sebuah lagu yang sangat manis dan menyenangkan. Aku sangat mengagumi keindahan suaramu. Akan tetapi jika kuperlihatkankau tidak pernah berkicau di siang hari.”
            Mendengar apa yang dikatakan si burung hantu, burung itu kemudian mencurahkan isi iatinya,”Tuan burung hantu yang bijaksana. Dulu aku tinggal di dalam hutan bersama teman-teman dan keluargaku. Kami semua hidup bersama dan merasa sangat bahagia. Akan tetapi suatu hari, saat aku sedang mencari makanan sambil bernyayi pemburu itu menangkapku. Sejak itu aku merasa sangat sedih, dan hanya bisa menangis saja di siang hari sehingga baru bisa bernyayi di malam hari,”
            “Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? ” tanya burung hantu .
            “Entahlah, aku hanya ingin bebas lagi,”jawab burung itu.
            Burung hantu yang pintar pun segera mencari cara untuk memberitahukan mengenai apa yang dirasakan burung itu kepada si pemburu. Setelah mengetahuinya, maka si pemburu segera mendatangi burung dalam kurungan tersebut.
            “Maafkan aku teman. Selama ini aku tidak mengetahuinya. Aku hanya ingin lebih sering mendengarkan suaramu saja, Tak kusangka, ternyata apa yang kulakukan ini hanya membuatmu merasa tersiksa.”Kemudian si pemburu melepaskan burung itu.
            Untuk membalas kebaikan si pemburu yang telah rnun membebaskannya kembali, maka setiap hari, burung ituakan datang dan menyayikan sebuah lagu merdu untuk dinikmati oleh si pemburu.

Malin Kundang



MALIN KUNDANG
            “Hai, Malin Kundang tunggulah sekejap, Anakku. Aku ingin sekali melihat wajahmu. Aku ingin ikut merasa bahagia karena engkau telah menjadi orang mulia”
            “Wahai emak tua, Emak jangan mengada-ada. Panglima adalah orang yang mulia. Ia menantu Kepala Penguasa Negeri. Ia Nahkoda yang terkenalgagah berani dan kaya raya.katakanlah jika engkau mau meminta sedekah. Panglima pasti memberinya sebab beliau seorang yang ramah dan pemurah. Tetapi engkau jangan mengada-ada,”kata sang pegawai yang selain ingin memuliakan panglimanya.
“Telah lama aku tirakat dan berdo`a. Siang dan malam aku mohon kepada yang mahakuasa agar memberi kemulyaan kepada anakku. Jika aku mati, niscaya telah senang hatiku,”kata emak janda. Tapi pegawai itu tertawa terbahak-bahak mendengarnya.”Banyak orang suka mengaku orang sengsara, tak seorang pun mempedulikannya.”
            “Wahai, Malin Kundang, tidak kudengar kata-kataku? Tunggulah sekejap, tengoklah sekilas maka akan berbahagialah aku. Aku tak akan menganggum kemuliaanmu. Aku sudah terbiasa hidup sengsara, tak ingin lagi hidup bermanja..Tetapi......, kaudengarkah suaraku...., Anakku?”
            Walaupun jaraknya tidak jauh, Malin Kundang seakan-akan tidak mendengar ucapan Emak Janda, Ibunya itu. Ia sibuk membingbing istrinya menghindari kerumunanorang yang hiruk pikuk.
            Malin Kundang tetap membisu. Ia berhasil menyelamatkan istrinya ke kapal. Di kejahuanibunya telah sampai ke tepi pantai. Ia berseru-semu sebisa-bisanya. “Anaku Malin Kundang, benarkah Engkau hidup berbahagia menjadi orang mulia.”
            Malin Kundang kehilangan Iman. Ia malu menghadapi kejadian ini. Ia merasa terlanjur berdiam diri. Ia segan mengubah sikapnya karena ia merasa dirinya panglima yang berkuasa.
            Air mata Emaknya bercucuran karena sedih. “Sebelum aku menutup mata, hanya satu keinginanku, melihat anakku hidup bahagia dan mulia.... tetap yang kutunggu tidak kunjung datang yang kutemui tidak lain dan seonggok batu yang membisu.
            Pada saat itu juga, tiba-tiba angin bertiup kencang. Kapal yang ditumpangi Malin Kundang terguncang-guncang. Angin bertiup makin kencang, ombakpun berdebur-debur. Malin kundang berdiri menunduk kelu tidak bergerak diterpa angin meredu-redu. Kata-kata pilu dari ibu yang sengsara itu ternyata merupakan kutukan yang tidak terkira. Malin Kundang menjadi batu.