Selasa, 23 Oktober 2012

Jadwal Piket


Jadwal Piket Harian
††“Kelas  VIII-7”††
SMP NEGERI 1 GABUSWETAN

SENIN
SELASA
RABU
ADITIYA PUTRA
AGUS SUGIANTO
AMALIA PUTRI
ANDRE CAHYONO
SRI RAHAYU WIJAYA
UVIT PUTRIA NINGSIH
YOGI SETIAWAN
AZIS ARRY NASHORI
CINTIA YULIANTI
DESY LIANA
DIYON JAYA
IKRAR NEGORO
SUGIARTI
TYAS
KIKI KRISMANA
LIANA TRI AMALIA
MOCH. BAYU AJI. P
NESTA HARDIANTI
NISKANDAR SUPRIYADI
NURAENI SAFITRI
WITRI RAHAYU

KAMIS
JUM`AT
SABTU
NURBANI HARYANTO
RAMA SEPTIAN
REDINDA APRI LIYANTI
REKA NURHAYATI
RENDI YUNITA ADITIYA. R
RIAH HERYANTI
TRIANTO
RIO SUBASTIAN
ROSANDI
SABILAH SONJAYA
SADAM KUSENA
SELI PANDANI
TRISNO AGUNG . P

SETIYA RIZK INDRA . M
SINDY SUSILO
SIGIT WIDIANTO
SISKA AMALIA
SODIKIN
SOLIHIN
TURNIA SARI

Sabtu, 20 Oktober 2012

Cabai


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena atas rahmat serta ridho-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Hama Penyakit Cabai, sholawat serta salam penulis ucapkan kepada jung-jungan nabi besar Muhammad Saw. Kepada keluarga dan para sohabatnya serat kita selaku umatnya yang mudah-mudaha mendapat safaatnya. Amin.
Pada makalah ini akan dibahas tentang Hama Penyakit Cabai
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan keritik serta saran yang membangun dari pembaca penulis harapkan agar kedepannya makala ini dapat jauh lebih baik lagi.


Penulis
Kelompok  {“Cabai“}





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR           .............................................................................       i
DAFTARISI                           .............................................................................       ii
BAB I PENDAHULUAN     .............................................................................       1
1.1  Latar Belakang                  .............................................................................       1
1.2  Perumusan Masalah          .............................................................................       2
1.3  Tujuan Penulisan               .............................................................................       2
1.4  Manfaat Penulisan                        ............................................................................        2
1.5  Metode Penulisan             ............................................................................        2
BAB II ISI                             .............................................................................       3
2.1 Pengertian Cabai               ………………………………………………….       3
2.2 Nama Hama                      ………………………………………………….       4
2.3 Hama Penyakit Cabai Menyerang Ketika ………………………………...         4
2.4 Bagian yang Diserang       ………………………………………………….       4
2.5 Pemberantasan Hama dan Penyakit Secara Biologis ...................................        6
2.6 Pemberantasan Hama dan Penyakit Secara Kimiawi ……………………...       6

BAB III PENUTUP               ………………………………………………….       7
3.1 Kesimpulan                       ………………………………………………….       7
3.2 Saran                                 …………………………………………………..      7
DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dewasa ini bertani cabai hibrida sistem mulsa plastik hitam perak (MPHP) banyak dipraktekkan pada cabai Hot Beauty, Hero, Long Chili, Ever-Flavor dan cabai Paprika. Dimungkinkan pula pada usahatani cabai keriting hibrida maupun cabai kecil (rawit, cengek) hibrida. Alasan utama sistem MPHP digunakan pada cabai-cabai hibrida adalah untuk mengimbangi biaya pengadaan MPHP dari peningkatan hasil cabai yang lebih tinggi daripada cabai biasa, sehingga secara ekonomis menguntungkan. Budidaya cabai hibrida dengan sistem MPHP merupakan perbaikan kultur teknik ke arah yang intensif. Pada umumnya sistem budidaya cabai di sentra-sentra produksi cabai masih menggunakan benih lokal dan populasi tanaman per hektarnya tinggi. Populasi yang sangat rapat ini dapat mengakibatkan penangkapan sinar matahari setiap tanaman berkurang dan kelembaban udara di sekitar kebun menjadi tinggi. Kelembaban yang tinggi seringkali dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit. Perbaikan kultur teknik budidaya cabai secara intensif untuk meningkatkan produksi maupun kualitas hasil, diantaranya adalah penggunaan benih unggul dari varietas hibrida yang bermutu tinggi, penerapan MPHP, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, serta cara-cara lain yang khas seperti pemasangan turus dan perempelan tunas ataupun daun.
1.2 Perumusan Masalah
Berkaitan dengan uraian pada latar belakang diatas, maka permasalahan yang dikemukakan dalam makalah ini adalah sebagai berikut, yakni :
Ø  Pengertian Cabai
Ø  Nama Hama Penyakit
Ø  Bagian yang Diserang
Ø  Pemberantasan Hama dan Penyakit Secara Biologis
Ø  Pemberantasan Hama dan Penyakit Secara Kimiawi

1.3  Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan pada bagian sebelumnya, maka penulisan ini bertujuan :
Ø  Untuk Mengetahui  Lebih Dalam Tentang Pengertian Cabai
Ø  Untuk Mengetahui  Lebih Dalam Tentang Nama Hama Penyakit
Ø  Untuk Mengetahui  Lebih Dalam Tentang Bagian yang Diserang
Ø  Untuk Mengetahui  Lebih Dalam Tentang Pemberantasan Hama dan Penyakit Secara Biologis
Ø  Untuk Mengetahui  Lebih Dalam Tentang Bagaimana Cara Pemberantasan Hama dan Penyakit Secara Kimiawi
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah :
ü  Dari segi teoritis penulisan ini dapat memberikan pengetahuan lebih mengenai Hama Penyakit tanaman Cabai..
ü  Dapat memenuhi tugas yang diberikan Guru mata pelajaran Mulok
1.5 Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini menggunakan metode studi pustaka.





BAB II ISI
2.1 Pengertian Cabai
Cabai atau cabe merah atau lombok (bahasa Jawa) adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat populer di Asia Tenggara sebagai penguat rasa makanan.
Klasifikasi Tanaman Cabai
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas        : Asteridae
Ordo                : Solanales
Famili              : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus              : Capsicum
Spesies            : Capsicum annum L.

2.2 Nama Hama dan Penyakit pada Cabai
1.Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)
2.Kutu Daun (Myzus persicae Sulz.)
3.Lalat Buah (Dacus ferrugineus Coquillet atau D. dorsalis Hend.)
4.Thrips (Thrips sp.)
5.Tungau


PENYAKIT TANAMAN CABAI

1.Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
2.Layu Fusarium (Fusarium oxysporum Sulz.)
3.Bercak Daun dan Buah (Collectrotichum capsici (Syd.) Butl. et. Bisby)
4.Bercak Daun (Cercospora capsici Heald et Wolf)
5.Bercak Alternaria (Alternaria solani Ell & Marf)
6.Busuk Daun dan Buah (Phytophthora capsici Leonian.)
7.Virus (Cucumber Mosaic Virus (CMV), Potato Virus Y (PVY), Tobacco Etch Virus (TEV), Tobacco Mosaic Virus (TMV).)
8.Penyakit Fisiologis (Kekurangan Kalsium (Ca), Terbakar Sinar Matahari, Kekurangan Air.)
9.Busuk Kuncup atau Pucuk (Teklik).

2.3 Hama Penyakit Cabai Menyerang Ketika
ü  Agrotis yopsilon Rottenbrg (ulat tanah), Hama ini biasanya menyerang tanaman pada malam hari sedang pada siang hari bersembunyi di dalam tanah.
ü  Spodoptera litura Fabricius (ulat grayak), hama ini biasanya menyerang malam hari,
2.4 Bagian Tanaman yang diserang
ü  Agrotis yopsilon Rottenbrg (ulat tanah), gejala yang terlihat yaitu tanaman muda akan patah, terpotong pada pangkal batangnya. Sangat merugikan bila ulat menyerang tanaman yang masih muda, baik di persemaian maupun setelah melakukan pindah tanam. Hama ini biasanya menyerang tanaman pada malam hari sedang pada siang hari bersembunyi di dalam tanah.


ü  Heliothis armigera Hubner (penggerek buah), gejala serangan pada buah. Ulat akan melubangi buah terutama dekat bagian tangkai buah. Ulat akan masuk kedalam buah dan memakan bagian dalam buah, sehingga buah akan rusak, pada akhirnya akan rontok dan membusuk, terutama setelah penyakit sekunder ikut masuk kedalam buah.

ü  Spodoptera litura Fabricius (ulat grayak), hama ini biasanya menyerang malam hari, dengan gejala awal akan terlihat pada daun. Larva muda yang baru menetas akan bergerombol pada bagian bawah daun. Ulat-ulat kecil ini mulai memakan bagian daging daun dan meninggalkan lapisan epidermis daun yang tipis dan berwarna putih tembus pandang. Ulat yang besar mampu memakan urat-urat daun sehingga daun akan menjadi berlubang.
ü  Aphis gossypii Glover (kutu daun), Pada serangan hebat akan menyebabkan pertumbuhan tanaman mengerdil. Tanaman yang terserang, daunnya akan mengeriting. Hal ini disebabkan cairan dalam daun dihisap oleh hama ini. Hama ini juga merupakan vektor (pembawa) penyakit virus. Hama dapat mengeluarkan kotoran embun madu, sehingga akan banyak ditemui hewan semut yang  memanfaatkan kotorannya. Embun madu ini dapat menjadi media tumbuhnya jamur jelaga yang menutupi daun, akibatnya akan sangat mengganggu dalam proses fotosintesa tanaman.



2.5 Pengendalian secara Biologis
Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas solanacearum) Untuk memastikan penyebab layu tersebut kita bisa mengambil tanaman yang terserang, kemudian pangkal batangnya dibelah untuk direndam pada gelas yang berisi air bening. Apabila bakteri maka akan ditandai dengan keluarnya cairan berwarna coklat susu berlendir semacam asap yang keluar pembuluh batangnya di dalam air. Untuk mengatasinya tak ada jalan lain selain menyingkirkan tanaman yang terserang, dan tetap menjaga agar bedengan tanam selalu dalam kondisi kering di luar. Selain itu, melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili bisa mengurangi resiko serangan penyakit tersebut. Secara kimiawi, penyakit ini dapat dicegah dengan menyiram larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 - 10 gr/liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml/tanaman interval 10 - 14 hari dan dimulai saat tanaman mulai berbunga.

2.6 Pemberantasan hama secara Kimiawi
Penyakit Bercak Bakteri (Xanthomonas campetres) dengan merendam benih menggunakan bakterisida berbahan aktif stretomisin sulfat dan oksitetrasiklin. Daun,ranting dan buah yang berserakan di atas bedengan agar di bersihkan dan dimusnahkan. Rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili cabai sangat dianjurkan. Tekan serangan bercak bakteri ini dengan fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocida 60 WDG, Cupravit, Trimiltox.
Penyakit Bercak Daun (Phytophthora capsici) Pengendalian terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan membuang tanaman yang terserang sekaligus membersihkan sanitasi lingkungan tanaman. Secara kimia dapat juga dicegah dengan fungisida kontak bahan aktif tembaga hidroksida seperti Kocide 54WDG, Kocide 77WP, dan atau fungisida bahan aktif Mankozeb yaitu Victory 80WP.




BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada makalah ini penulis menyimpulkan bahwa tanama cabai memeliki kendala yang begitu sulit dan rentan terhadap serangan hama penyakit
Tanaman cabai dapat berkembang baik apabila perawatan dan pemeliharaan yang teratur ,pengndalian  hama penyakit dapat dilakukan dengan cara alami yaitu dengan memberikan kusuh alaminya , Penyakit tanaman cabai dapat dikendalikan dengan cara pemberian bahan kimia seperti Kocide 54WDG, Kocide 77WP, Mankozeb yaitu Victory 80WP.
3.2 Saran
Jadi dalam penanaman cabai haruslah diperlukan ketelitian, kesabaran , keterampilan mengenai teknik dan pengolahan  penanaman cabai












Tugas Kelompok
Kelpmpok « cabai »

                        Nama kelompok       :           aditiya putra
                                                                        Agus eugianto
                                                                        Aziz arry nashori
                                                                        Kiki krismana
                                                                        Nurbani haryanto
                                                                        solihin 

Selasa, 16 Oktober 2012

klasifikasi mahluk hidup


Makhluk Hidup
Pada abad ke 18 (sekitar 250 tahun lalu), Carolus Linnaeus, ahli Botani warga Swedia, memperkenalkan sistem klasifikasi makhluk hidup berdasar kepada penampakan fisiknya. Sebelumnya pun sudah ada metoda klasifikasi namun tidak lengkap dan sebagus yang diusulkan ole Linneaus. Setiap organisme sejenis masuk dalam kelompok species, species kepada genus, setiap genus ke family tertentu; yang urutan klasifikasinya dari atas: kingdom, phylum, class, ordo, family, genus, species. Suatu yang khas terjadi pada masa itu, biologi pun dicampur adukkan dengan teologi, Linneaus pun pernah mengatakan “Tuhan menciptakan, Linnaeus mengklasifikasikan”.
apakah ketiga mahluk hidup ini berkerabat dekat?
Kemudian munculah Darwin dengan teori evolusinya bahwa kehidupan di bumi ini berhubugan erat dengan pohon evolusi raksasa, dengan organisme ber-sel satu dibagian akarnya dan species yang survive di masa ini ada di puncaknya. Antara akar dan puncak pohon terdapat jutaan (kalau tidak milyaran) cabang yang menunjukkan masa-masa sejarah berkembangnya evolusi mahluk hidup. Taxonomi dari Linneus ini pun tetap dipakai karena sistem klasifikasi berdasar kemiripan ini sesuai dengan apa yang jadi fakta evolusi juga: mahluk hidup yang mirip cenderung ‘berkerabat dekat’.
Namun perkembangan pesat teori evolusi terutama dengan berbagai penemuan fosil di abad lalu, makin menunjukkan bahwa klasifikasi berdasasar kemiripan dari Linneus ini tidak cukup bagus lagi. Misalnya Willi Hennig, entomolog dari Jerman pada 1960-an memperkenalkan cladistik, suatu metoda penentuan cabang dalam pohon kehidupan. ‘Penyesuaian’ pada metoda taxonomi Linneus ini mengelompokkan organisme berdasar pada leluhurnya dibanding hanya berdasar kemiripan. Namun pembaharuan ini pun dianggap makin membuat kesimpangsiuran oleh saintis yang kemudian memperkenalkan sistem klasifikasi baru yang bernama Phylocode.
Dengan kata lain, kelompok Phylocode beranggapan lebih baik mulai dari awal lagi melakukan klasifikasi mahluk hidup yang bukan berdasar kemiripan seperti yang diusung oleh Linneus hampir 3 abad lalu itu. Salah satu penggagasnya, Jacques Gauthier, berpendapat bahwa biologi telah banyak berubah sejak Darwin, namun system klasifikasinya tidak (baca: taxonomi Linneus).
Tentu saja ini mendapat tentangan yang luar biasa, karena akan membawa dampak pada perubahan radikal, mulai dari penyesuaian buku teks, manual, serta perubahan klasifikasi jutaan mahluk hidup yang pernah dibuat sebelumnya. Seperti biasa kemunculan ide baru dalam sains, selalu ada pihak yang mempertahankan ide lama walau dirasa itu makin kurang memuaskan. Dan biasanya ide baru baru tumbuh subur kalau terjadi ‘proses alamiah’, yaitu melalui pergantian generasi dari para pendukung ide lama. Hal ini berhubung saintis generasi baru biasanya tidak terikat secara emosional dengan ide lama dan biasanya relatif terbuka dengan adanya perubahan.
Sebagai ilustrasi digambarkan tiga sistem klasifikasi mahluk hidup untuk ular boa, buaya amerika dan burung pipit berdasar taxonomy Linneus dan PhyloCode.

Phylocode mengelompokkan ular boa, buaya amerika dan burung pipit dalam satu kelompok kekerabatan yang sama (reptilia), karena berdasar kejadian evolusi mahluk hidup, bahkan kekerabatan burung pipit lebih dekat ke buaya dibanding ke ular boa, sedangkan Linneus tidak melakukannya karena memang dari segi penampakkan fisik sangat jauh berbeda. Perlukah siswa mengetahui debat aktual dalam biologi seperti halnya pada system klasifikasi makhluk hidup? Relevansi memunculkan masalah ini lebih dari sekedar menunjukkan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan, juga memperkenalkan pada siswa bahwa ide-ide dalam sains terus direvisi dengan adanya penemuan baru dan sains pun melakukannya secara reguler.